🐋 Ceramah Tentang Hati Manusia

MukaddimahCeramah Tentang Hati Manusia: Hati Yang Bersih. Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan meminta petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari keburukan-keburukan ContohCeramah Tentang Berhati-hati Terhadap Kemewahan Ditulis Admin Jumat, 02 Oktober 2020 Tulis Komentar Edit. Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan pada junjungan kita, kekasih kita, manusia paling mulia yang pernah ada di dunia, Nabi Muhammad saw. Tentu saja beserta keluarganya yang mulia, para sahabatnya yang agung, serta kita CeramahSingkat Tentang Empat Macam Manusia. Kaum muslimin yang Allah Subhanahu wa Ta'ala rahmati, Sesungguhnya kesempurnaan ibadah seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala itu kembali kepada dua perkara yang sangat agung, yakni quwwatul 'ilmiyyah wa quwwatul 'amaliyyah.. Seorang mukmin akan melakukan berbagai bentuk kebaikan, ibadah, dan amal apabila dia memiliki dua landasan CeramahMaster Cheng Yen: Menyucikan Hati Manusia untuk Menciptakan Keharmonisan "Lima tahun yang lalu, saya didiagnosis terkena kanker kandung kemih stadium 3. Karena itu, saya berpegang pada ajaran Master untuk memanfaatkan waktu yang ada semaksimal mungkin. KajianIslam - Hati adalah cerminan asli dari pemilik hati, atau dalam kata lain wujud asli dari sifat dan keyakinan manusia yang tidak dapat diketahui oleh manusia yang lainnya.Seperti apakah keadaan hati, hanyalah dia sendiri dan Allah SWT yang mengetahui. Jika kita membahas kajian Islam tentang hati, sebenarnya banyak hal yang dapat kita bahas bersama, namun terkhusus kali ini, tim Setelahmemahami prinsip kebenaran, kita hendaknya berbagi dengan orang-orang. Inilah yang disebut mewariskan Dharma. Kita harus mewariskan dan membabarkan Dharma di dunia ini untuk menyucikan hati manusia. Dengan demikian, barulah hati kita bisa menyatu dan kita bisa mengetahui arah tujuan yang ben - Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia adalah organisasi global yang bertujuan memberikan pelayanan JPSDM: Jurnal Pengabdian Sumber Daya Manusia Vol. 1 No. 2 Oktober | E-ISSN : 2808-2729 2021 76 PENDAMPINGAN PEMANFAATAN DAN KEAMANAN PENGGUNAAN TANAMAN OBAT BAGI UMKM JAMU SEDUH DAN JAHE MERAH BUBUK DI DESA WISATA CANDISARI, MRANGGEN, DEMAK Suparmi Suparmi1, Suryani 2Yulianti ,3, Abdur Rosyid4, 1,2,3,4Universitas Islam Sultan Agung ContohNaskah Pidato tentang Macam-macam Kecerdasan Manusia Terbaru dan cakap dalam membedakan suasana hati, temperamen, motivasi dan keterampilan-keterampilan orang lain. Menurut N. K Humprey, intelegensi sosial ini merupakan bentuk yang paling penting dalam intelegensi manusia, karena dinilai mampu memelihara hubungan manusia secara RasulullahNabi Muhammad SAW bersabda: ثلاثٌ مُهلِكاتٌ : شُحٌّ مُطاعٌ ، و هوًى مُتَّبَعٌ ، و إعجابُ المرءِ بنفسِه. "Ada tiga sifat yang dapat membinasakan manusia, sikap bakhil yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan merasa bangga dengan diri sendiri." Imam Al Ghazali menjelaskan PersiapanSeminar AMA HKBP Regional V di Palembang - 13 Juli 2022. by Administrators. Tuesday, 02 August 2022. KajianIslam - N asehat agama tentang hati yang bersih k erap kita dengar bukan sobat cahaya islam?. M anusia adalah salah satu makhluk hidup yang d i ciptakan sebagai kodrat menjadi makhluk yang penuh dosa dan salah.. Dan tentunya tidak bisa semua manusia bisa menyadari kesalahan yang telah di perbuatnya, terutama adalah masalah hati.. Berbuat dosa j uga ternyata banyak sekali hal yang Olehsebab adat-adat Melayu banyak bertentangan dengan Islam maka proses menukarkan adat ini perlu dijalankan dengan hati-hati Masyarakat Melayu yang homogenetis mengalami transformasi menjadi masyarakat Keadaan ini berubah selepas kedatanagan Islam yang membawa konsep tauhid dengan menafikan kewujudan Tuhan yang banyak 1 paparan sosio-budaya masyarakat dalam lirik lagu dialek melayu kuching WJ3J. Ceramah Singkat Yang Dikenal oleh HatiFitrah Kebaikan di Dalam HatiSebab Kerusakan HatiMakna Ma’ruf dan MunkarVideo Ceramah Singkat Yang Dikenal oleh Hati Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat yang diberikan-Nya kepada kita yaitu kemudahan untuk mempelajari, memahami, dan mengamalkan Islam. Serta kemudahan untuk mengusahakan sebab-sebab yang memperbaiki keimanan dan ketakwaan di dalam hati kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia di atas fitrah yang cenderung kepada tauhid, kebenaran, dan kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah.” QS. Ar-Rum[30] 30 Hanif itu merupakan fitrah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Dia ciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan dalam fitrah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ “Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus. Kemudian syaithan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agamanya.” HR. Muslim No. 2865A Fitrah Kebaikan di Dalam Hati Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Keadaan ini merupakan kabar gembira bagi kita. Bahwa secara asal, potensi hati kita lebih dekat dengan mengenal kebenaran, lebih mudah untuk diajak kepada tauhid, dan lebih dekat dengan keimanan yang benar. Sedangkan penyimpangan-penyimpangan itu kemudian datangnya sebagai pendatang baru. Adapun lurus mengikuti agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, cenderung kepada tauhid, ini merupakan asal yang sudah ada potensinya dalam hati kita sejak kita dilahirkan di dunia ini. Makanya, upaya untuk mengembalikan diri kita kepada iman yang benar itu adalah perkara yang mudah. Apalagi dengan petunjuk Islam yang jelas yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan keadaan hati dan fitrah manusia. Ini akan mempermudah keadaan tersebut. Seandainya syaithan tidak menghalangi kita, tidak mengotori hati kita, kita akan mudah mengenal kebenaran. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda; استفت قلبك، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إلَيْهِ النَّفْسُ، وَاطْمَأَنَّ إلَيْهِ الْقَلْبُ، “’Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati,” HR. Ahmad dalam Arba’in An Nawawi hadits ke-27 Ini menggambarkan bahwa hati itu kalau benar, iman itu kalau benar, kebaikan itu bisa kita ambil dari hati. Tinggal bertanya kepada hati. Apa yang tenang, kita lakukan. Lalu apa yang rasanya tentram dan damai, kita kerjakan. Itulah kebaikan. Tapi ini tentu berlaku bagi orang-orang yang imannya benar dan hatinya bersih. Kemudian dari dalil hadits ini, para ulama mengambil kesimpulan. Seperti Imam Ibnu Rajab Al Hanbali dalam kitab Jami’ul Ulum Wal Hikam mengambil kesimpulan bahwa kebenaran itu memang asal yang telah ada pada hati manusia. Sedangkan keburukan dan penyimpangan itu datangnya kemudian/ belakangan. Syaithan menyusupkannya ke dalam hati kita. Sebab Kerusakan Hati Makanya kerusakan hati adalah ketika dia tidak bisa mengenali kebaikan sebagai kebaikan. Dan tidak mengingkari kemunkaran sebagai keburukan. Dalam sebuah atsar, Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala menukil perkataan sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu yang mengatakan; هَلَكَ من لا يكن له قلب يعرف به معروفا و يمكر به منكرا. “Binasalah orang yang tidak punya hati yang dengan hatinya dia bisa mengenali kebaikan sebagai kebaikan dan keburukan sebagai keburukan.” Kitab Ighatsatul Lahfan, 1/20 Oleh karena itu ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Mengenali kebenaran, menerimanya, memahami, dan mudah mengamalkannya adalah asal yang ada pada hati manusia. Keburukan datangnya kemudian. Keburukan yang dibisikkan oleh syaithan merupakan pendatang baru. Maka ini adalah kabar gembira bagi kita. Kalau ingin memperbaiki diri itu mudah. Asal kita belajar pemahaman agama yang benar dan kita dekatkan hati kita dengan keindahan agama. Bacalah Al-Qur’an dengan merenungkan isinya, ucapkan dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan merenungi kandungannya. Maka hati kita akan terbuka kembali kepada fitrah asalnya. Akan mudah menerima hal tersebut, dan akan tenang dengannya. Inilah asal yang ada pada hati manusia. Makna Ma’ruf dan Munkar Oleh karena itulah, ketika Islam mengartikan istilah al-ma’ruf dengan kebaikan. Amar ma’ruf nahi munkar; memerintahkan kepada yang baik dan melarang dari keburukan. Al-ma’ruf secara bahasa artinya adalah yang dikenal. Tapi mengapa kita terjemahkan dengan kebaikan/ memerintahkan kepada kebaikan? Maksudnya dikenal dengan kebaikan adalah dikenal oleh hati. Munkar secara bahasa artinya bukanlah keburukan, tetapi yang asing tidak dikenal. Mengapa kita terjemahkan kemunkaran dengan keburukan? Karena pada asalnya, hati manusia tidak mengenalnya. Makanya Nabi Ibrahim alaihissalam dalam Al-Qur’an ketika datang malaikat yang bertamu ke rumah beliau, beliau mengucapkan; سَلَٰمٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ “Salaamun kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”QS. Az-Zariyat[51] 25 Munkar di sini bukan berarti kaum yang jelek. Maksudnya kaum yang saya tidak kenal, yang asing bagi saya. Ini artinya munkar secara bahasa. Kita artikan keburukan itu karena memang asalnya hati kita tidak mengenal keburukan. Maka kalau kita ingin kembali kepada Islam, belajarlah Islam yang benar. Di situlah kita dapatkan hati kita akan tenang dan akan hilang semua kegundahan dan kekalutan yang selama ini menimpanya. Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berfirman; الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” QS. Ar-Ra’d[13] 28 Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan ini bagi kita semua. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memudahkan bagi kita petunjuk-Nya untuk memperbaiki diri dan kembali kepada keimanan yang benar. Yang merupakan sebab ketenangan dan kedamaian jiwa kita yang sesungguhnya. Video Ceramah Singkat Yang Dikenal oleh Hati Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang ceramah singkat “Yang Dikenal Oleh Hati” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum.. By Selasa, 07 Januari 2020 pukul 241 pmTerakhir diperbaharui Selasa, 07 Januari 2020 pukul 241 pmTautan Berdzikir Adalah Kehidupan Untuk Hati Manusia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad Al-Badr pada 19 Rabbi’ul Tsani 1441 H / 16 Desember 2019 M. Pembahasan halaman 238 pada kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid. Penerjemah Ustadz Iqbal Gunawan, Download mp3 kajian sebelumnya Doa Yang Dibaca Setiap Hari dan Keutamaan Bertasbih Kajian Islam Ilmiah Tentang Berdzikir Adalah Kehidupan Untuk Hati Manusia Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari Rahimaullah meriwayatkan bahwasannya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ الله وَالَّذِي لَا يَذْكُرُهُ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ “Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah dan orang yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati.” HR. Bukhari dan Muslim Penjelasan Syaikh Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad Al-Badr Dalam hadits ini disebutkan keutamaan berdzikir, keutamaan selalu menjaga ibadah ini dan keutamaan untuk terus menerus berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Dan bahwasannya berdzikir ini adalah kehidupan untuk hati-hati manusia. Dan semakin banyak seorang hamba berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka akan semakin baik kualitas kehidupan hatinya. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah pernah mengatakan الذكر للقلب مثل الماء للسمك، فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء “Kebutuhan hati untuk berdzikir seperti kebutuhan ikan kepada air, bagaimana kondisi ikan apabila dipisahkan dari air?” Maka hidupnya hati yang mana tidaklah hati diciptakan kecuali untuk menegakkan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk mentauhidkan Allah, mengagungkan Allah Azza wa Jalla. Ini adalah hakikat kehidupan yang sebenarnya untuk hati seorang hamba. Dan hadits ini tertera dengan dua lafadz, salah satu diantaranya مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ الله وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir kepada Allah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” HR. Bukhari Adapun lafadz yang lain مثل البيت الذي يذكر الله فيه، والبيت الذي لا يذكر الله فيه، مثل الحي والميت “Perumpamaan rumah yang dibacakan di dalamnya dzikir kepada Allah dan rumah yang tidak dibacakan di dalamnya dzikir kepada Allah seperti orang mati dan orang hidup.” HR. Muslim Dan dua lafadz ini memberikan faedah bahwasanya dzikir ini sangat penting sekali untuk dilakukan di rumah-rumah kita. Dan rumah-rumah orang yang tidak berdzikir kepada Allah, maka rumah-rumah mereka seperti kuburan. Dan orang yang tidak berdzikir kepada Allah di rumahnya, seakan-akan rumahnya itu seperti kuburan. Dan hati yang tidak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dadanya seperti kuburan untuk hatinya. Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullah فجعل بيت الذاكر بمنزلة بيت الحي، و بيت الغافل بمنزلة بيت الميت، وهو القبر “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan rumah orang yang berdzikir kedudukannya seperti rumah orang yang hidup, adapun rumah orang yang lalai dari berdzikir maka kedudukannya seperti rumah orang yang sudah mati atau kuburan.” Dalam lafadz yang pertama, dijadikan orang yang berdzikir seperti orang yang hidup dan orang yang lalai dari berdzikir seperti orang yang mati. Maka dua lafadz ini mengandung makna bahwasanya hati orang yang berdzikir seperti orang yang hidup di rumah orang-orang yang hidup. Adapun orang yang lalai dari berdzikir seperti orang yang mati di rumah orang-orang mati, yaitu kuburan. Dan tentu saja tidak diragukan lagi jasad orang-orang yang lalai adalah kuburan untuk hati-hati mereka. Dan hati-hati mereka di dalam badan mereka seperti hati-hati yang mati. Maka kesimpulannya, seorang hamba seyogyanya selalu bersemangat untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan memperbanyak dzikir kepada Allah Azza wa Jalla sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam FirmanNya يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّـهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ﴿٤٢﴾ “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak dan bertasbihlah di waktu pagi dan di waktu sore.” QS. Al-Ahzab[33] 41-42 Juga firman Allah Azza wa Jalla وَالذَّاكِرِينَ اللَّـهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّـهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ﴿٣٥﴾ “Dan laki-laki yang banyak berzikir kepada Allah juga perempuan, Allah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang agung.” QS. Al-Ahzab[33] 35 Downlod MP3 Ceramah Agama Tentang Berdzikir Adalah Kehidupan Untuk Hati Manusia Podcast Play in new window DownloadSubscribe RSS Jangan lupa untuk turut menyebarkan link download kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum.. Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui Telegram Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui Facebook Berikut pembahasan Ceramah Tentang Hati Manusia Hati Yang Bersih yang disampaikan Syaikh Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi Hafidzahullahu Ta’ala. Mukaddimah Ceramah Tentang Hati Manusia Hati Yang BersihApa itu hakikat hati yang bersih?Video kajian Ceramah Tentang Hati Manusia Hati Yang Bersih Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meminta petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari keburukan-keburukan amal kita dan dari kejahatan jiwa kita. Sesungguhnya barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak ada yang akan bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya. Kita bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada beliau dan juga kepada para Sahabat dan keluarga beliau. Ketahuilah para hadirin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sesungguhnya yang menjadi patokan dalam syariat adalah apa yang ada di dalam hati. Dan bahwasanya keselamatan di hari akhirat kelak tergantung kepada apa yang ada di hati manusia. Jika seseorang memiliki hati yang bersih, maka dia akan selamat pada hari kiamat kelak. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan hal ini dalam Al-Qur’an, bahwasanya yang selamat pada hari kiamat kelak adalah yang memiliki hati yang bersih. Allah berfirman يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّـهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ “yaitu dihari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” QS. Asy-Syu’ara[26] 88-89 Jika kita telah mengetahui bahwasanya keselamatan adalah dengan hati yang bersih, dan jika kita ingin selamat, maka tidak ada jalan lain kecuali kita harus berusaha membersihkan hati kita. Kaum Muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, majelis kita pada kesempatan kali ini, kita berharap Allah memberikan ganjaran bagi yang berbicara demikian juga bagi para hadirin sekalian. Kita ingin menjelaskan tentang sifat-sifat hati yang bersih. Harapan kita, jika kita sudah tahu isi hati yang bersih, kita bisa meraih derajat yang lebih mulia dengan membersihkan hati kita. Para hadirin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sesungguhnya kedudukan hati di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sangatlah agung. Dan seorang yang ingin dan berharap untuk bisa selamat jiwanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hendaknya dia benar-benar memperhatikan kondisi hatinya. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” HR. Muslim 2564 Dan tidak ada yang samar bagi Allah, tidak ada yang tertutup di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah melihat seluruhnya. Akan tetapi makna dari hadits ini yaitu yang menjadi patokan, yang dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dari penglihatan tersebut seseorang memperoleh ganjaran atau hukuman atau adzab adalah penglihatan Allah terhadap apa yang ada di hatinya. Ini yang menjadi patokan utama. Oleh karenanya, amal menjadi baik atau menjadi rusak tergantung apa yang ada di dalam hati. Karenanya para hadirin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengingatkan hal ini dengan sabdanya أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ “Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599. Dan jika kita telah mengetahui bahwasanya perkaranya begitu luar biasa berkaitan dengan hati, maka hendaknya setiap kita selalu memperhatikan kondisi hatinya. Kenapa? Karena hati mudah terpengaruh, dengan sedikit pengaruh pun bisa berubah dengan begitu cepat berubah. Dan kondisi hati seperti kondisi baju atau seperti kondisi tisu yang putih, mudah sekali terkena kotoran. Dan kalau terkena kotoran sedikit ia mudah sekali terkotori. Oleh karenaya tatkala kita mengetahui kondisi hati yang mudah berubah, mudah terpengaruh, maka kita benar-benar memperhatikan kondisi hati kita setiap saat. Karenanya diantara yang dipanjatkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan do’a yang panjang yang Nabi buka dengan do’anya رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ “Ya Allah tolonglah aku dan jangan Engkau tolong orang untuk mengalahkan aku.” Lalu diakhir do’a tersebut kata Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي “Ya Allah, cabutlah kotoran hatiku” Yaitu, “Ya Allah, keluarkan kotoran yang ada di dalam relung hatiku.” Yang disebut dengan سَخِيمَةَ, asalnya adalah warna hitam yang terdapat dalam bagian hati yang paling dalam. Seakan-akan karena seringnya kelalaian yang datang menerpa hati berturut-turut tiada berhenti, maka mulailah menghitam hati kita, menghitam dan menghitam. Oleh karenanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdo’a kepada Allah dengan do’a ini. Padahal ini yang berdo’a adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Yang kita tahu bahwasanya hati beliau adalah hati yang terbersih, hati yang paling suci, itu pun Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdo’a dengan do’a agar Allah menghilangkan kotoran hati beliau. Bagaimana lagi dengan kita? Oleh karenanya ini perkara yang sangat penting tatkala kita tahu bahwa hati kita sangat mudah terpengaruh dengan kotoran, dengan hal yang merusaknya, maka kita harus benar-benar memperhatikan hati kita. Para hadirin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, Hati yang bersih yang dimiliki oleh seorang, itulah yang menyelamatkan dia pada hari kiamat kelak. Hari dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّـهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ “yaitu dihari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” QS. Asy-Syu’ara[26] 88-89 Hati yang bersih adalah adalah hati yang dimiliki oleh para Nabi, para Rasul, dan juga orang-orang shalih setelah mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Nabi Ibrahim Alaihissalam وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ ﴿٨٣﴾ إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٤﴾ “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya Nuh. lngatlah ketika ia datang kepada Rabbnya dengan hati yang bersih” QS. Ash-Shaffat[37] 83-84 Maka orang-orang shalih, mereka adalah orang-orang yang memiliki hati yang bersih. Tatkala hati mereka bersih di dunia, maka merekapun selamat di akhirat. Akan tetapi, wahai hamba Allah jika engkau bertemu dengan Allah ternyata hatimu tidak bersih, ternyata hatimu kotor, maka berhati-hatilah. Bagaimana engkau akan meraih keselamatan? Ketahuilah bahwasanya apa yang kamu kumpulkan di dunia ini; hartamu, anak-anakmu, perdaganganmu, segala yang engkau miliki tidak akan bermanfaat pada hari kiamat kelak jika ternyata kau datang kepada Allah dengan membawa hati yang tidak bersih. Tahukah bagaimana engkau akan keluar dari dunia ini? Engkau akan keluar dari di dunia ini dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang sifat orang-orang yang dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat kelak يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً “Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 5102 dari Aisyah Radhiyallahu anha. Jangankan kemewahan, jangankan mobil, jangankan dunia, kamu saja tidak punya sendal pada hari tersebut. Jangankan perhiasan dunia, bajumu saja kau tidak punya pada hari tersebut. Kau tidak akan keluar dengan memakai baju, keluar dalam kondisi tidak berpakaian. Demikian juga dalam kondisi belum disunat, akan dikembalikan kondisi ini oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ “Kalian akan datang kepada Kami bersendirian-bersendirian sebagaimana Kami ciptakan kalian sebelumnya yang tadinya sudah disunat kembali lagi dalam kondisi belum disunat Dan seluruh yang pernah Kami berikan kepada kalian tatkala di dunia kalian akan tinggalkan” QS. Al-An’am[6] 94 Para hadirin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Yang menjadi perhatian Allah pada hari kiamat kelak adalah amalanmu, bagaimana hatimu. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Yang selamat pada hari tersebut adalah yang bertemu dengan Allah dengan membawa hati yang bersih.” Oleh karenanya ayat ini selalu kita ingat-ingat. يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّـهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ “yaitu dihari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” QS. Asy-Syu’ara[26] 88-89 Seluruh harta yang kita kumpulkan tidak bermanfaat, anak-anak yang kita banggakan tidak akan bermanfaat. Kecuali yang bertemu dengan Allah dengan hati yang bersih. Jadikan ayat tersebut selalu di hadapan mata kita agar kita senantiasa memperhatikan hati kita. Karena di dunia ini banyak sekali perkara yang menggiurkan, banyak sekali perkara yang melalaikan, sehingga kita lupa seakan-akan kita tidak akan bertemu dengan Allah, kita lupa bahwasannya dunia yang kita kumpulkan ini akan kita tinggalkan seluruhnya, kita lupa bahwasanya kita akan mati dan dibangkitkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka selalu jadikan ayat ini di hadapan mata kita. يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّـهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ yaitu dihari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” QS. Asy-Syu’ara[26] 88-89 Para hadirin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sebagian orang bertanya kepada yang lainnya, “Sesungguhnya apa tujuanmu hidup dalam kehidupan ini, apa cita-citamu?” Tentunya cita-cita atau tujuan adalah perkara yang besar yang setiap orang berusaha untuk meraihnya dalam kehidupan ini. Adapun orang-orang yang memiliki akal yang rendah, maka cita-cita mereka hanya terbatas pada dunia yang sangat rendah. Yang dunia tersebut tidaklah bernilai di sisi Allah kecuali seperti sayap seekor nyamuk. Sayap seekor nyamuk, berapa dijual? Kalau seandainya saya memiliki sayap nyamuk, kalian ingin beli sayap nyamuk dariku beberapa? Sangat tidak bernilai. Orang-orang yang akalnya rendah, maka demikianlah tujuan mereka, cita-cita mereka hanyalah untuk murni perkara dunia. Tujuannya adalah bagaimana bisa meraih harta yang banyak, saya ingin meraih gelar yang tinggi supaya bisa menghasilkan uang yang banyak, saya ingin bisa mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya, itulah cita-cita mereka. Akan tetapi orang-orang memiliki hati yang bersih, memiliki akal yang besar, maka cita-cita mereka adalah perkara yang lain. Mereka ingin bisa mencapai apa yang telah dicapai oleh Ibrahim Alaihissalam. Sungguh Ibrahim Telah bertemu dengan Rabbnya dengan membawa hati yang bersih. Maka mereka ingin pula bertemu dengan Rabb mereka dengan membawa hati yang bersih. Inilah tujuan yang termulia, inilah tujuan yang tertinggi. Maka hendaknya setiap kita bertanya dalam dirinya dan menjadikan cita-cita kehidupannya bagaimana saya bisa bertemu dengan Rabb saya dengan membawa hati yang bersih? Ibrahim Alaihissalam adalah teladan kita. Bahkan Ibrahim Alaihissalam adalah teladan bagi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا “Kemudian kami wahyukan kepada engkau wahai Muhammad, ikutlah agama Ibrahim yang lurus.” QS. An-Nahl[16] 123 Maka Ibrahim Alaihissalam adalah qudwah panutan bagi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bagi para Nabi. Ibrahim Alaihissalam telah bertemu dengan Rabbnya dengan hati yang bersih. Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bertemu dengan Rabbnya dengan hati yang bersih, para Sahabat telah bertemu dengan Rabb mereka dengan hati yang bersih, para syuhada telah bertemu dengan Rabb mereka dengan hati yang bersih, para shalihun telah bertemu dengan Rabb mereka dengan hati yang bersih. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana dengan kita? Bagaimana kita bisa bertemu dengan Rabb kita dengan hati yang bersih? Jadikanlah ini sebagai cita-cita kehidupan kita. Hadirin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, Bahwasanya hendaknya kita menjadikan cita-cita kehidupan kita sejak saat ini, kita berusaha bertemu dengan Rabb kita dengan membawa hati yang bersih. Bukanlah maksud dari pembahasan kita yaitu kita berpaling dari dunia, tidak. Bukan maksudnya kita menghindari dunia. Tapi jangan jadikan dunia sebagai nomor satu. Yang menjadi nomor satu harusnya bagaimana kita bertemu dengan Allah dengan hati yang bersih. Tempatkan dunia pada tempatnya, jadikanlah dunia nomor dua, tapi yang selalu di hadapan mata kita, yang selalu menjadi cita-cita kita adalah bagaimana bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati yang bersih. Apa itu hakikat hati yang bersih? Apa itu hakikat hati yang bersih? Yang dengan hati yang bersih ini maka kita akan selamat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati yang bersih adalah hati yang padanya terdapat lima sifat. Maka barangsiapa yang memperoleh sifat tersebut, ia dapati di dalam hatinya lima sifat tersebut, maka hendaknya dia bergembira. Berarti dia telah memiliki hati yang yang bersih. Lima sifat tersebut, yaitu hati yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hati yang tunduk kepada perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, hati yang pasrah dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, hati yang selamat dari seluruh perkara yang memutuskan dia dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, hati yang dia berdamai, mencintai wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memusuhi musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala Barangsiapa yang memiliki lima sifat ini dalam hatinya, maka dia memiliki hati yang bersih. Maka pasang hati baik-baik untuk mendengar penjelasan tentang lima sifat hati yang bersih ini. Selanjutnya 1 Hati yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Video kajian Ceramah Tentang Hati Manusia Hati Yang Bersih Video Tabligh Akbar “Hati yang Bersih” Sholih bin Abdil Aziz Sindi Mari turut menyebarkan catatan kajian “Ceramah Tentang Hati Manusia Hati Yang Bersih” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

ceramah tentang hati manusia