🦧 Air Mazi Najis Atau Tidak

Perkara yang membatalkan wudhu. 1. Tidur dalam keadaan tidak tetap. 2. Keluarnya sesuatu dari dua saluran (qubul dan dubur) 3. Hilang akal (mabuk atau sakit) 4. Menyentuh qubul atau dubur dengan tapak tangan tanpa berlapik. Perkara yang membatalkan wuduk. Nota: Jika yang keluar itu adalah air mani sendiri, tidak perlu berwuduk, tetapi diwajibkan mandi wajib. Tidur yang tidak tetap punggungnya; kecuali tidur dalam keadaan rapat kedua-dua papan punggung di tempat duduk. Hilang akal dengan sebab gila atau macam hilang akal seperti sangat mabuk, sakit, pengsan atau pitam. Ia keluar tanpa memancut dan salah satu najis yang tidak boleh dibawa untuk bersolat. Walaupun najis namun seseorang itu tidak perlu untuk mandi wajib sekiranya keluar air mazi. Menurut pandangan para ulama, sekiranya air tersebut ada pada zakar suami atau kemaluan isteri sewaktu proses berjimak ia dimaafkan dan tidak wajib membasuhnya. Mani atau sperma itu tidak najis, tetapi seseorang yang mengeluarkannya wajib mandi besar. Menurut para ulama, setidaknya ada tiga hal yang membedakan antara mani dengan madzi dan wadi. Pertama, baunya ketika basah seperti bau adonan roti dan tepung, sedang ketika sudah mengering seperti bau telor. Kedua, keluarnya memuncrat. Dan keluarnya bisa setetes atau dua tetes, bahkan bisa saja lebih. Maka, jika kita lihat dari penjelasan di atas terkait ketiganya. Bahwa madzi dan wadi adalah najis, dan tidak diharuskan untuk mandi besar namun tetap harus dibersihkan. Sedangkan air mani adalah suci namun diharuskan untuk mandi besar atau junub. Bedanya madzi dan mani, madzi adalah cairan tipis dan putih, keluar tanpa syahwat, tanpa memancar, tidak membuat lemas dan keluar ketika muqoddimah hubungan intim. Madzi itu najis, sedangkan mengenai status mani apakah najis ataukah suci terdapat perselisihan di kalangan ulama. Ertinya: "Barangsiapa yang tidak berniat untuk puasa sebelum fajar, tiada puasa (wajib) baginya". (Riwayat Abu Daud, 3/108; Albani: Sohih). 10) Keluar air mazi. Air mazi adalah air yang keluar dari kemaluan lelaki atau perempuan kerana naik syahwat. Madzi: Cairan bening, tidak terlalu kental, tidak berbau, keluarnya tidak memancar, setelah keluar tidak lemas, biasanya keluar sebelum mani keluar. Cairan ini termasuk najis ringan (najis mukhaffafah), namun jika keluar, tidak menyebabkan wajib mandi dan tidak membatalkan puasa. Cairan encer berwarna putih yang keluar karena dorongan syahwat dan tidak mengakibatkan badan lemas. Umumnya tidak terasa saat keluar. Cairan ini lebih banyak dimiliki kaum wanita daripada laki-laki. Madzi keluar secara normal saat bercumbu dengan suami atau saat membayangkan bersetubuh dengannya. Madzi hukumnya najis dengan kesepakatan ulama. Air madzi pada wanita cenderung bening atau tidak berwarna. Cairan ini biasanya keluar saat wanita hanya membayangkan melakukan hubungan badan dengan pria. Jawabannya adalah tidak. Seseorang tidak perlu mandi wajib jika keluar air mazi karena air mazi bukanlah penyebab hadas besar yang mengharuskan seseorang mandi wajib. Yang mewajibkan mandi besar adalah apabila seseorang keluar mani. Mazi hukumnya adalah najis sehingga jika keluar dan terkena anggota badan maka harus disucikan. Ini berlaku apabila najis yang keras dan banyak itu menekan pundi prostat atau pundi seminal dalam perjalanan keluar. Daripada penjelasan ini, anda kini tahu cecair air mazi boleh keluar daripada salur kencing selain air kencing. Keradangan salur kencing boleh membuatkan pundi dalam mukosa salur kencing radang dan menghasilkan banyak cecair mazi. jsQP6Yh.

air mazi najis atau tidak